Profil Rumah Qur'an Al-Yusr


“Bacalah Al-Qur”an dengan tartil . (QS. Al –muzzammil : 4)

Dari Aisyah ra, ia berkata : “Rasulullah saw bersabda: “Orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan ia mahir bersama para malaikat yang mulia dan taat, dan orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan ia terbata-bata dan merasa kesulitan, ia mendapat dua pahala.” (HR.BukhariMuslim).

“Sesungguhnya orang yang didalam dadanya tidak terdapat Al-Qur’an bagaikan rumah yang tidak berpenghuni.” ( HR.Atturmudzi).
      Berdasarkan pentingnya mempelajari membaca al-Quran secara benar dan tartil, kemudian kenyataan yang didapati pada saat ini bahwa masih belum banyak yang ikut berkecimpung dalam penyelenggaraan pendidikan Tahsin dan Tahfidz al-Quran, maka kami merasa terpanggil untuk ikut terlibat di dalamnya. Sehingga kami berharap masyarakat akan terbebas dari buta huruf Al-Quran, dapat membaca Al-Quran dengan benar-tartil, dan ikut menjaga kelestarian Al-Quran dengan menghafalkannya. 


Tujuan Mendirikan Rumah Qur'an Al-Yusr
Bersama  untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dimulai membaca dan menghafal Al-Qur’an .
Visi
Sebagai sarana menghafal Al-Qur’an yang unggul kreatif dalam menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Misi
Membangkitkan kembali  semangat penghafal Al-Qur’an serta dapat menjawab kebutuhan ummat dalam proses belajar mengajar al-Qur’an. 



Kegiatan Waktu dan Tempat
Guna mendukung optimalisasi  Rumah Qur’an Al-Yusr, Kami telah mempersiapkan program-program kegiatan belajar –mengajar Al-Qur’an
Berikut adalah program- program dirumah Qur’an Al-Yusr:
1. Baca tulis (BT) Al-Qur’an anak-anak TK dan SD
2. Tahsin Tajwid (TT) Qur’an Remaja putra dan putri.
3. Tahfizh Qur’an mahasiswa dan Karyawan.
4. Tahsin Tahfizh ibu-ibu rumah tangga 

No
Hari Belajar
Waktu
Peserta
Program
1.
Senin-Rabu
15.00-17.00
Anak-anak
Tahsin & Iqro
2.
Selasa
 13.00-15.00
Ibu-ibu
Tahsin dan Tahfidz
3.
Rabu-kamis
17.00-19.30
Anak-anak
Tahfizh
4.
 Jum’at
15.30-17.30
Remaja putri
Tahsin
5.
sabtu
19.30-20.30
Remaja Putra
Tahsin




Ada harapan besar atau cita-cita kami, yaitu :
1.       Rumah Qur’an Al-Yusr dapat menyelenggarakan belajar Al-Qur’an  agar kesempatan       
masyarakat untuk belajar Al-Qur’an lebih luas.
2.       Rumah Tahfizh Al-Yusr dapat menyelenggarakan program Tahfizh intensif , sehingga
dapat mencetak para huffazh ( penghafal Qur’an) dengan target yg optimal.
3.       RumahTahfizh Al-Yusr  dapat memberikan biaya pendidikan beasiswa bagi anak yatim
dan kaum du’afa serta beasiswa bagi peserta berprestasi yg  mampu menyelesaikan hafalan Qur’an sesuai dengan target program kami.
4.       Untuk mewujudkan itu semua dibutuhkan ruang dan sarana belajar yang memadai dan
dapat dikelola dengan maksimal untuk dapat memberikan manfaat yang seluas-luasnya.

Kisah Penghafal yang Hafal Qur'an Dalam Waktu Singkat


Setiap penghafal al-Qur'an mempunyai kenangan manis tersendiri ketika ia bisa mengkhatamkan hafalannya. Ada yang khatam dalam waktu cepat, lambat dan juga normal. Tapi jangan sampai Anda seperti kebanyakan orang, menghafal lalu.....meninggalkan hafalan itu..Laa haulaa walaa quwwata illah billah. Semoga saja tidah yach, Amiin

FIQIH IBADAH DAN PRINSIP IBADAH DALAM ISLAM

A.    Pengertian Fiqih Ibadah
Secara bahasa kata fiqih dapat diartikan al-Ilm, artinya ilmu, dan al-fahm, artinya pemahaman. Jadi fiqih dapat diartikan ilmu yang mendalam.
Secara istilah fiqih adalah ilmu yang menerangkan tentang hukum-hukum syar’i yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan para mukalaf yang dikeluarkan dari dalil-dalilnya yang terperinci. Mukalaf adalah orang yang layak dibebani dengan kewajiban. Seorang dianggap mukalaf setidaknya ada dua ukuran; pertama, aqil, maksudnya berakal. Cirinya adalah seseorang sudah dapat membedakan antara baik dan buruk, dan antara benar dan salah. Kedua, baligh, maksudnya sudah sampai pada ukuran-ukuran biologis. Untuk laki-laki sudah pernah ikhtilam (mimpi basah), sedangkan perempuan sudah haid.
Sementara itu ibadah secara bahasa ada tiga makna; (1) ta’at (الطاعة); (2) tunduk (الخضوع); (3) hina (الذلّ); dan (التنسّك) pengabdian. Jadi ibadah itu merupakan bentuk ketaatan, ketundukan, dan pengabdian kepada Allah.

KISAH NYATA: AKHIR HAYAT PENGHAFAL AL QURAN (HAFIZH)

      Sahabat Qur'ani silahkan baca kisah dibawah ini, yang dikutip dari arrahmah.com. kisah yang membuat kita tak kuasa membendung air mata, kisah yang mengharukan, kisah yang juga membuat kita malu akan diri kita.
BERIKUT KISAHNYA.........................

Kutamaan berinfaq

 مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ 
“Perumpamaan (infak yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Alloh melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqoroh [2]: 261)
Harta dengan segala bentuk dan jenisnya sesungguhnya adalah milik Alloh. Manusia memilikinya karena diberikan oleh-Nya sebagai nikmat, amanah, sekaligus ujian. Dengan harta, Alloh menguji hamba-hamba-Nya, siapakah diantara mereka yang menggunakannya dengan baik dan siapa pula yang menyia-nyiakan dan menyimpangkannya.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
 إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ 
“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian (bagi kalian), dan di sisi Alloh-lah pahala yang besar”. (QS. at-Taghobun [64]: 15)
Diantara manusia ada yang menggunakan harta dengan membelanjakannya hanya sekedar memperturutkan hawa nafsu, sehingga tak jarang mereka terjatuh pada hal-hal yang diharamkan. Harta yang dimiliki hanya menjadikan mereka semakin jauh dari Alloh. Mereka ini adalah orang-orang yang merugi  dan celaka. Dititipi harta tapi tak pandai bersyukur. Diberi karunia tapi malah semakin kufur.
Diantara manusia ada pula yang membelanjakan hartanya semata-mata mengharapkan ridho Alloh ta’ala. Mereka mengerti bahwa harta yang saat ini di tangan mereka hakikatnya adalah milik Alloh. Ada dalam genggaman mereka hanyalah untuk sementara waktu.
Mereka menjadi hamba yang pandai bersyukur, dan mewujudkan rasa syukur kepada-Nya dengan benar. Mereka akan selalu membelanjakan harta sesuai dengan aturan-Nya. Untuk apa harta itu akan digunakan, dan apa saja yang akan dibeli dengannya, selalu diukur dengan timbangan syariah-Nya. Dengan demikian harta yang mereka miliki itu semakin menambah kedekatan mereka kepada Alloh. Mereka inilah orang-orang yang beruntung dan bahagia, yang akan meraih janji Alloh berupa pahala terbaik di surga-Nya kelak atas seluruh kesabaran mereka dalam beramal selama di dunia ini.
Sedekah Adalah Bukti Iman

KESUKSESAN HARUS DENGAN SABAR

Kesuksesan merupakan cita-cita terbesar bagi setiap insan. Tidak ada manusia melainkan mereka ingin sukses. Lantas apa kunci kesuksesan? Tidak lain dan tidak bukan kesabaran adalah kunci terbesar seseorang meraih kesuksesan, baik kesuksesan dunia maupun akhirat.
Alloh subhanahu wa ta’ala anugerahkan kepada orang-orang yang beriman sifat kesabaran. Inilah modal besar kesuksesan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:
“Sangat mengagumkan kondisi orang mukmin, sebab segala keadaannya untuk dia sangat baik dan tidak mungkin terjadi yang demikian kecuali bagi seorang mukmin: jika mendapat nikmat ia bersyukur, maka syukurnya itu lebih baik baginya dan jikalau menderita kesusahan ia bersabar dan sabar itu lebih baik baginya”. (HR Muslim)
Kisah Ashabul Ukhdud dapat menjadi pelajaran bagi kita, karena kesabaran mereka memegang prinsip dan keyakinan yaitu beriman kepada Alloh Yang Maha Esa. Kisah ini diabadikan di dalam surat al-Buruj yang senantiasa dibaca oleh orang beriman hingga akhir zaman. Mereka diuji dengan cobaan dahsyat sampai akhirnya mereka dimasukkan ke dalam api yang berkobar, sehingga ada riwayat yang menceritakan bahwa seorang ibu tidak tega melihat anaknya yang masih bayi untuk ikut masuk kedalam api, lalu terjadi suatu keajaiban, anaknya yang bayi tersebut dapat bicara dengan mengatakan, “Wahai ibu bersabarlah sesungguhnya engkau berada dalam kebenaran.”
Karena kesabaran mereka dalam memegang prinsip kebenaran, maka Alloh ta’ala balas mereka dengan surga yang di bawahnya terdapat sungai-sungai yang mengalir.
Kisah ibunda Anas bin Malik rodhiallohu anhu, Ummu Sulaim rodhiallohu anha menjadi motivasi kesabaran menghadapi kematian sang buah hati. Disebutkan bahwa buah hati tercintanya mengalami sakit. Kemudian sakitnya bertambah parah hingga akhirnya meninggal dunia.
Ummu Sulaim rodhiallohu anha berkata kepada sanak keluarganya, “Jangan sekali-kali kalian memberitahukan perihal anak ini pada Abu Tholhah (suamiku) sampai aku sendiri yang memberitahunya.”
Sekembalinya Abu Tholhah rodhiallohu anhu, alhamdulillah, air mata kesedihan Ummu Sulaim telah mengering. Ia menyambut kedatangan suaminya dengan hangat. Sang suami bertanya, “Bagaimana keadaan putraku sekarang?” “Dia lebih tenang dari biasanya.” Jawab Ummu Sulaim rodhiallohu anha dengan wajar. Abu Tholhah merasa begitu letih hingga tak ada keinginan menengok putranya. Namun hatinya turut berbunga-bunga mengira putranya dalam keadaan sehat. Ummu Sulaim  pun menjamu suaminya dengan hidangan malam yang istimewa dan berdandan serta berhias dengan wangi-wangian, membuat Abu Tholhah rodhiallohu anhu tertarik dan mengajaknya tidur bersama. Setelah Abu Tholhah menggauli istrinya dan merasa puas, Ummu Sulaim rodhiallohu anha bertanya, “Wahai Abu Tholhah apa pendapatmu bila ada seseorang meminjamkan barang kepada tetangganya lantas ia meminta kembali barang tersebut. Pantaskan jika si peminjam enggan mengembalikannya?” “Tidak,” jawab Abu Tholhah. Ummu Sulaim berkata, “Sesungguhnya anakmu, fulan, adalah pinjaman dari Alloh dan Dia telah mengambilnya.”Abu Tholhah beristirja (mengucapkan: Innaa lillaahi wa innaaa ilaih rooji’uun) dan memuji Alloh seraya mengatakan, “Demi Alloh, aku tidak membiarkanmu mengalahkanku dalam kesabaran.”
Pagi-pagi buta sebelum cahaya matahari kelihatan penuh, Abu Tholhah menjumpai Rosululloh sholallohu alaihi wasallam dan menceritakan kejadian itu. Rosululloh sholallohu alaihi wasallam pun bertanya, ‘Apakah semalam kalian bercampur?’ Abu Tholhah rodhiallohu anhu menjawab, ‘Ya.’ Nabi sholallohu alaihi wasallam berdoa, “Ya Alloh, berilah keberkahan pada mereka berdua.”
Rupanya, Alloh mengabulkan doa Nabi-Nya dan menakdirkan anak dari hubungan keluarga Ummu Sulaim tersebut. Beberapa bulan kemudian sang anak tersebut lahir dan diberi nama Abdulloh oleh Rosululloh sholallohu alaihi wasallam. Dan barokahnya ternyata tak hanya sampai di situ. Kelak di kemudian hari, Abdulloh memiliki sembilan orang putra yang semuanya penghafal al-Qur’an.
Saudaraku… Dua kisah di atas sungguh mengagumkan. Pelajaran yang bisa dipetik darinya adalah bahwa kehidupan dunia penuh dengan cobaan dan ujian. Hal ini sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:

Menghafal Al-Qur’an; Sejarah, Tantangan, dan Keutamaannya





al-qur'an 1“Puasa dan Al-Qur’an akan memberikan syafaat bagi seorang hamba pada hari kiamat. Puasa berkata, ‘Wahai Tuhanku sesungguhnya aku menghalanginya dari makan dan syahwat pada siang hari, maka berikanlah syafaat kepadaku untuknya. Lalu Al-Qur’an berkata, ‘Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menghalanginya dari tidur waktu malam hari, maka berikanlah syafaat kepadaku untuknya. Maka keduanya dapat memberikan syafaat.” (HR. Ahmad, Ath-Thabrani dan Hakim. Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami, no. 3882).
MENGHAFAL al-Qur’an mempunyai keutamaan di dunia dan di akhirat. Keutamaan di dunia di antaranya adalah nikmat Rabbani yang datang dari Allah, yang menjanjikan kebaikan, keberkahan dan kenikmatan dan ilmu bagi penghafalnya. Dan para penghafal Al-Qur’an mendapatkan Tasyrif Nabawi (penghargaan khusus dari Nabi). Dan seorang yang menghafal Al-Qur’an orang-orang terhormat yang merupakan keluarga Allah yang ada di atas bumi.
Di akhirat kelak, selain akan mendapatkan syafaat, para penghafal Al-Qur’an juga mendapat kehormatan berupa Tajul Karomah (mahkota kemuliaan) bagi dirinya dan kedua orang tuanya.
1. Sejarah menjaga kemurnian al-Qur’an

Tak bisa disangkal bahwa Nabi Muhammad SAW menerima wahyu al-Qur’an dari Jibril dengan cara hafalan, karena beliau adalah seorang ummy (al-‘Ankabut : 48). Demikian pula beliau mengajarkan kepada para sahabat. Setiap kali turun ayat al-Qur’an para sahabat yang kebanyakan juga tidak bisa baca tulis dengan penuh semangat menghafal ayat-ayat al-Qur’an yang mereka terima dari Nabi, di samping ada beberapa sahabat yang diminta untuk menuliskannya.
Lalu muncullah gagasan untuk mengumpulkan al-Qur’an pada masa kekhalifahan Abu Bakar Siddiq ra dari Umar ibnu Khattab ra. Umar merasa khawatir akan hilangnya sebagian Al-Qur’an dari penghafalnya yang banyak gugur dalam pertempuran.
Oleh sebab itu khalifah Abu Bakar ra memerintahkan Zaid bin Tsabit, penulis suhuf-suhuf di zaman Rasulullah untuk mengumpulkan suhuf-suhuf al-Qur’an, baik yang terdapat pada pelepah kurma, tulang hewan maupun dari para penghafal Al-Qur’an yang masih hidup. Dengan demikian kaum muslimin pada saat itu sepakat meyakini, bahwa mushaf Abu Bakar adalah mushaf Al-Qur’an yang sahih yang diakui oleh semua sahabat tanpa ada yang membantah.
Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab nyaris tidak ada lagi kegiatan dalam rangka mengumpulkan Al-Qur’an, karena menitikberatkan pada penyebaran agama Islam ke seluruh penjuru dunia.
Barulah pada masa Khalifah Usman bin Affan ra, setelah wilayah kekuasaan Islam sudah semakin luas, oleh sebab itu semakin beraneka ragam pula bangsa-bangsa bukan Arab yang memeluk Agama Islam.
Seorang sahabat bernama Hudzaifah ibnu Yaman mengusulkan kepada khalifah agar segera diambil kebijaksanaan terkait timbulnya perbedaan-perbedaan mengenai bacaan al-Qur’an, karena setiap kabilah merasa paling baik bacaan al-Qur’annya.
Usul itu segera diterima Khalifah Usman ra, untuk segera mengirim utusan untuk meminta mushaf kepada Hafsah yang disimpan di rumahnya untuk disalin (diperbanyak). Untuk memperbanyak mushaf ini kembli khalifah Usman menunjuk Zaid sebagai ketuanya dengan anggota-anggotanya Abdullah bin Zubair, Said ibnu Ash, dan Abdurahman bin Harits.
Setelah selesai memperbanyak mushaf, maka Usman menyerahkan kembali mushaf yang asli kepada Hafsah. Kemudian lima mushaf lainnya dikirim kepada penguasa di Mekah, Kuffah, Basrah dan Suriah, dan salah satunya dipegang oleh Khalifah Usman bin Affan sendiri.
Demikianlah sejak saat itu mushaf Al Qur’an tersebut dinamai mushaf al Imam atau lebih dikenal dengan mushhaf Usmany, karena disalin pada masa khalifah Usman bin Affan.
2. Tantangan penghafal al-Qur’an pada saat ini
Dibanding dengan tradisi tahfizh al-Qur’an di negara-negara Timur Tengah, tradisi menghafal al-Qur’an di Indonesia untuk saat ini mempunyai beberapa perbedaan dan tantangan tersendiri, antara lain :
1. Dipandang sebagai ilmu khusus yang berdiri sendiri dan tidak diorientasikan sebagai dasar ilmu yang harus dilengkapi oleh ilmu-ilmu bantu yang lain.
2. Dilaksanakan di pesantren dan khusus untuk menghafal al-Qur’an. Santri secara full-time berada di pesantren dan khusus menghafal al-Qur’an.
3. Usia santri yang menghafal al-Qur’an sudah menginjak usia remaja, antara 12 – 18 tahun
4. Saat menghafal al-Qur’an tidak dibarengi dengan belajar ilmu lain baik secara formal maupun informal.
5. Setelah selesai (khatam) menghafal al-Qur’an jarang yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi.
6. Kondisi zaman yang kian menyulitkan seseorang untuk dapat mengingat hafalannya. Seperti gangguan akibat wanita, maraknya media yang menyiarkan kemaksiatan, atau karena faktor makanan.
Dengan beberapa ciri tersebut, para huffazh al-Qur’an di Indonesia biasanya disiapkan untuk upacara sema’an, menjadi kyai dan ustadz di pesantren tahfizh al-Qur’an atau menjadi peserta, pelatih atau hakim Musabaqah Hifzhil-Qur’an baik di tingkat kabupaten, propinsi, nasional maupun internasional. Jarang kita dengar para huffazh al-Qur’an di Indonesia menjadi ulama besar sebagai pimpinan Majelis Ulama atau Syuriyah, atau menjadi imam di masjid-masjid besar.
3. Keutamaan menghafal al-Qur’an di bulan Ramadhan
Bulan Ramadhan adalah bulan al-Qur’an, maka dari itu hendaknya seorang Muslim memberikan porsi perhatian yang lebih terhadap al-Qura’n di bulan ini. Suasana dan peluang waktu untuk menghafal al-Qur’an di bulan suci Ramadhan, tentu akan berbeda bila dibandingkan dengan bulan-bulan lainya. Di bulan suci Ramadhan, semangat untuk beramal akan semakin meningkat, terutama dalam membaca Al-Quran dan shalat malam selain yang paling inti yaitu berpuasa di siang harinya.
Salah satu keutamaan menghafal al-Qur’an di bulan suci ini adalah bisa menguatkan ingatan karena malam di bulan Ramadhan senantiasa diisi dengan shalat sunnah, seperti Tarawih.
Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa untuk memperkuat ingatan hafalan al-Qur’an adalah dengan shalat Qiyamullail.
Diriwayatkan dari sebuah hadits yang diterima dari Ibnu Abbas ra. Beliau berkata: “ Sewaktu kami bersama Rasulullah SAW di suatu majlis tiba-tiba datang Ali bin Abi Thalib lalu berkata kepada Rasulullah:” hafalan Al-Qur’an telah hilang dari ingatanku”. Bagaimana supaya hafalanku jadi kuat? Kemudian Rasulullah SAW berkata kepadanya:” Hai bapak Hasan! Maukah aku ajarkan/beritahukan kepadamu satu amalan/do’a yang dapat bermanfaat bagimu dan bagi orang yang engkau ajarkan dan akan selalu ingat/ selalu menetap dihatimu apa yang engkau pelajari/hafal? lalu sayyidina Ali menjawab:” Ya. Mau ya Rasul”. Beliau berkata:” Apabila datang malam jum’at maka bangunlah pada sepertiga malam kalau sanggup karena pada waktu tersebut merupakan maqom ijabah doa sebagaimana yang dikatakan Nabi Ya’kub kepada anaknya;” Tuhanmu akan mengampuni dosamu.” Wallahu’alam bisshawab. [sm/islampos/iiq/berbagaisumber]

Ulumul Qur’an Pada Masa Nabi

539406671_6b4a3c556c_bPertumbuhan dan perkembangan ulumul qur’an pada masa dan sahabat tidak begitu berkembang sebab sahabat pada saat itu tidak merasa perlu untuk menuliskan dalam ilmu-ilmu al-Qur`an karena segala permasalahan yang berhubungan dengan pemahaman, bacaan, maksud dan segala hal yang berhubungan dengan Al-Qur`an dapat ditanyakan langsung kepada Beliau. Hal ini juga didukung karena pada saat itu alat-alat tulis tidak mudah mereka peroleh. Selain itu juga pada masa Rasulullah Saw ada larangan untuk menuliskan apa yang mereka dengar dari Beliau selain dari Al-Qur`an, karena beliau khawatir akan bercampur antara Al-Qur`an dengan yang bukan Al-Qur`an.

Kondisi masyarakat Islam pada masa Rasulullah Saw masih sederhana, dimana Islam masih seputar Makkah dan Madinah, sehingga problematika masyarakat tentang Al-Qur`an belum banyak mengalami kendala yang berarti.
Allah SWT berfirman :
لَا تُحَرِّكۡ بِهِۦ لِسَانَكَ لِتَعۡجَلَ بِهِۦٓ ١٦ إِنَّ عَلَيۡنَا جَمۡعَهُۥ وَقُرۡءَانَهُۥ ١٧  فَإِذَا قَرَأۡنَٰهُ فَٱتَّبِعۡ قُرۡءَانَهُۥ ١٨  ثُمَّ إِنَّ عَلَيۡنَا بَيَانَهُۥ ١٩
Artinya : Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.

Sahabat Nabi Penghafal Al-Qur'an

             Al-qur’an diturunkan Allah swt. Allah pula yang akan memelihara melalui manusia-manusia yang di pilih-Nya. Di masa Rasulullah saw hidup, beliau menanamkan kecintaan yang dalam kepada al-Qur’an di hati para sahabat. Di pundah para sahabat inilah Rasulullah saw mengamanahkan teladan pelaksanaan al-Qur’an dan mewariskan petunjuk kehudupan ini bagi generasi-generasi selanjutnya.

Rasulullah saw memberi petunjuk untuk mempelajari al-Qur’an dari penghafalnya. Tujuh orang yang terkenal sebagai penghafal al-Qur’an di zaman Rasulullah saw, mereka adalah :

1. Ali Bin Abi ThalibAli adalah seorang penghafal al-Qur’an yang kuat dan termasuk diantara orang yang pertama kali mendapat hidayah islam. Ali berislam dalam usia belia. Ia memiliki nama lengkap Ali bin Abi Thalib Amir al-Mu’minin Abu al-Hasan al-Quraisyi al-Hasyimi. Ali terkenal zuhud, wara, dan dermawan ia menganggap rendah dunia dan selalu beramal untuk keridhaan Allah swt. Ia sangat memahami ilmu al-Qur’an. Abu Abdurrahman as-Sulmi berkata “aku tidak pernah melihat seorang yang lebih pandai dalam al-Qur’an daripada Ali”.Kehidupan Ali selalu diwarnai dengan al-Qur’an. Ali berkata tentang dirinya dan karunia Allah kepadanya “Demi Allah tidak satupun ayat yang diturunkan kecuali aku telah mengetahui tentang apa dan dimana diturunkan. Sesungguhnya Allah telah memberikan kecerdasan hati dan lidah yang fasih”Ali syahid terbunuh pagi hari tanggal 17 Ramadhan 40 hijriah di kuffah. Ia dibunuh Ibnu Muljam al-Maradi.

2. Abumusa Al-Asy’ariNama lengkapnya adalah Abdullah bin Qais bin Sulaim. Ia merupakan salah seorang sahabat Rasulullah saw yang menghafal al-Qur’an. Ia mempunyai perhatian yang besar terhadap kitab suci ini.

Ada-Adab Membaca Al-Qur'an

Bagi seorang Muslim yang membaca Al-Qur’an hendaknya melazimi adab-adab membaca Al-Qur’an yang diajarkan Islam di dalam Al-Qur’an maupun as Sunnah. Dengan melazimi adab berikut ini Insya Alloh bacaan Al-Qur’an kita akan menjadi ibadah yang diterima Alloh subhanahu wa ta’ala. Di antara adab mulia tersebut yaitu:
  1. Membaca Al-Qur’an dengan niat ikhlas untuk beribadah kepada Alloh
Orang yang tidak ikhlas di dalam membaca Al-Qur’an maka mereka termasuk dalam tiga golongan yang pertama kali diseret dan dilempar ke nereka. Lihat (Shohih Muslim, Kitabul Imarah bab Man Qaatala lir Riya’ was Sum’ah Istahaqqa an nar VI/47 atau III/1513-1514 no. 1905; An-Nasa-i, Kitabul Jihad bab Man Qaatala liyuqala : Fulan Jari’, Sunan Nasa-i VI/23-24, Ahmad dalam Musnadnya II/322 dan Baihaqy IX/168.)
“…Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Alloh. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya.
Alloh bertanya kepadanya: ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab: ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.
Alloh berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka. Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al-Qur-an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya.
Kemudian Alloh menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya serta aku membaca al-Qur-an hanyalah karena engkau.’
Alloh berkata: ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al-Qur-an supaya dikatakan seorang qari’ (pembaca al-Qur-an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya).
Alloh bertanya: ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’
Alloh berfirman: ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’’ (HR. Muslim)
  1. Membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci dari hadats dan najis.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّهُ لَقُرْآنٌ كَرِيمٌ (77)  فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (78)  لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ (79)
“Sesungguhnya Al-Quran Ini adalah bacaan yang sangat mulia. Pada Kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh). Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al Waqiah [56]: 77-79)
Meskipun yang dimaksud oleh banyak ahli tafsir makna “al Muthoharun” di dalam ayat ini adalah para malaikat. Namun banyak juga ulama yang berdalil dengan ayat tersebut dan keterangan lain bahwa hendaknya tidak menyentuh mushaf atau membaca Al-Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Inilah pendapat yang lebih selamat dan mendekati kebenaran.
  1. Dianjurkan menghadap kiblat ketika membaca Al-Qur’an jika memungkinkan. (Al-Muntaqo min Fatawa Al-Fauzan jilid 2 fatwa 15)
  2. Mengawali bacaan Al-Qur’an dengan membaca “isti’adzah” (perlindungan terhadap gangguan setan yang terkutuk.)