مَثَلُ
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ
حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ
ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Perumpamaan (infak yang dikeluarkan
oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Alloh adalah
seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir
seratus biji. Alloh melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia
kehendaki. Alloh Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”. (QS. al-Baqoroh [2]: 261)
Harta dengan segala bentuk dan jenisnya
sesungguhnya adalah milik Alloh. Manusia memilikinya karena diberikan
oleh-Nya sebagai nikmat, amanah, sekaligus ujian. Dengan harta, Alloh
menguji hamba-hamba-Nya, siapakah diantara mereka yang menggunakannya
dengan baik dan siapa pula yang menyia-nyiakan dan menyimpangkannya.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian (bagi kalian), dan di sisi Alloh-lah pahala yang besar”. (QS. at-Taghobun [64]: 15)
Diantara manusia ada yang menggunakan
harta dengan membelanjakannya hanya sekedar memperturutkan hawa nafsu,
sehingga tak jarang mereka terjatuh pada hal-hal yang diharamkan. Harta
yang dimiliki hanya menjadikan mereka semakin jauh dari Alloh. Mereka
ini adalah orang-orang yang merugi dan celaka. Dititipi harta tapi tak
pandai bersyukur. Diberi karunia tapi malah semakin kufur.
Diantara manusia ada pula yang membelanjakan hartanya semata-mata mengharapkan ridho Alloh ta’ala.
Mereka mengerti bahwa harta yang saat ini di tangan mereka hakikatnya
adalah milik Alloh. Ada dalam genggaman mereka hanyalah untuk sementara
waktu.
Mereka menjadi hamba yang pandai
bersyukur, dan mewujudkan rasa syukur kepada-Nya dengan benar. Mereka
akan selalu membelanjakan harta sesuai dengan aturan-Nya. Untuk apa
harta itu akan digunakan, dan apa saja yang akan dibeli dengannya,
selalu diukur dengan timbangan syariah-Nya. Dengan demikian harta yang
mereka miliki itu semakin menambah kedekatan mereka kepada Alloh. Mereka
inilah orang-orang yang beruntung dan bahagia, yang akan meraih janji
Alloh berupa pahala terbaik di surga-Nya kelak atas seluruh kesabaran
mereka dalam beramal selama di dunia ini.
Sedekah Adalah Bukti Iman
Salah satu bentuk pembelanjaan harta
yang sangat mulia dan bahkan menjadi bukti keimanan seseorang kepada
Alloh adalah dengan berinfak atau bersedekah.
Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:
“Suci adalah separuh dari iman, membaca Alhamdulillah dapat memenuhi timbangan (di akhirat), Subhanalloh dan Alhamdulillah dapat memenuhi sepenuh langit dan bumi, sholat adalah cahaya, sedekah adalah bukti keimanan, sabar adalah pelita, dan al-Qur’an menjadi hujjah yang dapat menolongmu atau sebaliknya mencelakakanmu. Setiap orang pada waktu pagi menjual dirinya (dengan mentaati Alloh), kemudian ada yang membebaskan dirinya (dari adzab) dan ada pula yang membinasakannya.” (HR. Muslim).
Seorang mukmin sangat yakin dengan janji Alloh subhanahu wa ta’ala, Dia akan memberi ganti atas amal hamba-Nya dengan yang lebih baik.
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
… وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ ۖ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
“… Apa saja yang kalian infakkan, maka Alloh pasti akan menggantinya. Dia-lah pemberi rizki yang terbaik”. (QS. Saba’ [34]: 39)
Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta” (HR. Muslim)
“Pada setiap pagi ada dua malaikat
yang turun kepada seorang hamba. Salah seorang dari mereka berdo’a: ‘Ya
Alloh, berilah ganti kepada orang yang berinfak’. Yang lainnya berdoa:
‘Ya Alloh, berilah kebinasaan kepada orang yang enggan berinfak’.” (HR. al-Bukhori dan Muslim)
Balasan Pahala Berlipat Ganda
Terkait ayat dalam Surat Al-Baqoroh [2]: 261 diatas, Imam Ibnu Katsir rohimahulloh menjelaskan
bahwa Alloh memberikan perumpamaan berupa balasan pahala berlipat ganda
bagi orang yang berinfak di jalan-Nya dan mengharapkan ridho-Nya.
Pengaruh bagi keimanan seorang hamba
yang mentadabburinya tentunya sangatlah besar, dimana pada ayat tersebut
Alloh memberi perumpamaan dengan: “sebutir benih menumbuhkan tujuh
bulir, dan setiap bulir terdapat seratus biji”. Tujuh ratus kali
lipat…!! Sebuah ganjaran pahala yang sangat besar. Jika seorang mu’min
tidak merasa tergerak dan tersentuh dengan janji-Nya ini, sungguh ada
masalah dalam keimanannya yang harus segera ia perbaiki.
Demikianlah Alloh subhanahu wa ta’ala membalas
amal sholih hamba-hamba-Nya yang mukmin, dimana amal mereka
dilipatgandakan, menjadi tumbuh dan berkembang, seperti halnya Alloh
menumbuhkan benih yang ditanam oleh seseorang di tanah yang baik. Benih
itu akan tumbuh subur dan terus berkembang sampai pada fase untuk dapat
dipetik hasilnya oleh sang penanamnya.
Alloh ta’ala tidak akan
menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Dia-lah Asy-Syakur (Yang Maha
Mensyukuri), Dia membalas amal hamba-Nya sekecil apapun dengan pahala
yang sangat besar.
Ayat tersebut juga merupakan penjelasan bagi ayat sebelumnya, dimana Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman:
مَنْ
ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ
أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ
تُرْجَعُونَ
“Siapakah yang mau memberi pinjaman
kepada Alloh dengan pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan
Alloh), pasti Alloh akan melipatgandakan balasan kepadanya dengan lipat
ganda yang banyak”. (QS. al-Baqoroh [2]: 245)
Alloh subhanahu wa ta’ala juga berfirman pada ayat yang lain:
يَمْحَقُ اللَّهُ الرِّبَا وَيُرْبِي الصَّدَقَاتِ ….
“Alloh memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah ….” (QS. al-Baqoroh [2]: 276)
Alloh menyuburkan harta yang dikeluarkan
oleh seorang hamba berupa infak atau sedekah dengan menumbuhkan harta
tersebut menjadi berlipat ganda, memberikan keberkahan yang banyak
padanya sehingga berbuah manfaat yang optimal bagi pemiliknya, dan
memberikan balasan pahala yang besar dan berlipat ganda kepada
pelakunya.
Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda:
“Barangsiapa bersedekah dengan sebutir kurma dari hasil usaha yang baik -dan Alloh tidak akan menerima kecuali yang baik- maka Alloh akan menerima dengan tangan kanan-Nya, lalu mengembangkan untuk pemiliknya (yang berinfak) sebagaimana salah seorang kalian mengembangbiakkan anak kuda atau anak untanya, sampai harta itu menjadi sepenuh bukit”. (HR. Bukhori)
Seluruh ayat maupun hadits tersebut
menunjukkan dengan sangat jelas akan keagungan amal sholih berupa infak
atau sedekah, dimana kebaikan yang akan didapatkan oleh orang yang
berinfak sangat banyak. Selain beberapa manfaat yang telah disebutkan
diatas, juga diantaranya; infak dapat menghapus dosa, sebagaimana Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api”. (HR. Tirmidzi)
Selain itu, di hari kiamat kelak tatkala
matahari didekatkan dengan jarak yang sangat dekat diatas kepala
manusia, dengan kondisi yang sangat panas, maka infak/ sedekah akan menjadi naungan bagi orang yang mengamalkannya.
Rosululloh sholallohu alaihi wasallam bersabda: “Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya (pada hari kiamat) sampai selesai diadilinya seluruh manusia”. (HR. Ahmad)
“Sesungguhnya naungan bagi seorang mukmin pada hari kiamat adalah sedekahnya”. (HR. Ahmad)
Dalam kesempatan lain, beliau sholallohu alaihi wasallam juga
memberi kabar gembira kepada tujuh golongan manusia yang akan
mendapatkan naungan dari Alloh di hari kiamat, salah satunya adalah:
“Seseorang yang bersedekah dengan
menyembunyikan sedekahnya itu, sampai tangan kirinya tidak mengetahui
apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya”. (HR. al-Bukhori dan Muslim)
Saudaraku kaum muslimin… sesungguhnya
masih sangat banyak limpahan ganjaran kebaikan yang akan Alloh berikan
kepada hamba-hamba-Nya yang gemar berinfak, baik di dunia maupun di
akhirat. Ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut kiranya dapat menjadi
pendorong semangat kita dalam mengamalkannya. Semoga Alloh menerima
amal-amal sholih kita, aamiin…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar